Peran Perempuan dalam Pengembangan Ekonomi Keluarga

Masyarakat kita sekarang masih banyak menganut paham patriarkhi khususnya di pedesaan seringkali masih ditemukan adanya anggapan bahwa perempuan tidak memiliki peran yang berarti dalam kehidupan manusia pada umumnya.

Hal ini dimulai ketika perempuan dilahirkan, dilanjutkan dengan ketika anak perempuan memasuki kanak kanak, mereka sudah mulai diperlakukan berbeda dengan teman lain yang berkelamin laki-laki, anak perempuan sudah mulai diperkenalkan dengan permainan yang terarah kepada domenstikasi, dimana anak – anak perempuan disodori permainan boneka, masak-memasak dll. Menginjak remaja perempuan dijejali dengan petuah bahwa bila menjadi perempuan akan dikatakan perempuan yang baik bila dapat membuat senang suami. Maka remaja perempuan mulai diajari bagaimana mempersiapkan diri menjadi wanita yang menyenangkan baik secara fisik maupun perawatan lainnya serta dipesan untuk selalu patuh dan taat pada suami. Pemahaman ini selalu terbawa hingga akhir hayat perempuan.

Kondisi tersebut masih sulit diubah bahkan kadang perempuan sendiri menjadi penghambat. Karena ketika perempuan beranjak tua mereka akan menanamkan hal yang sama kepada anak dan cicitnya dan akhirnya kita akan selalu beranggapan bahwa perempuan hanya memiliki otoritas di wilayah domestic saja. Padahal untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin menghimpit perempuan harus bekerja dalam hal pemenuhan kebutuhan keluarga.

Mengalami perubahan Dewasa ini banyak perempuan yang ikut ambil bagian dalam dunia publik yang dulu dunia publik dianggap hanya milik kaum laki – laki. Namun sayang sekali ketika perempuan sudah ikut merambah di dunia publik seringkali tidak dibarengi dengan berkurangnya peran domestik, maka kita jumpai perempuan yang semakin terseok – seok dengan beban pekerjaan yang semakin banyak. Perempuan harus menyelesaikan tugasnya di wilayah domestik dan juga ambil peran didunia publik.

Padahal perekonomian suatu daerah ikut diramaikan dengan berkiprahnya perempuan di bidang ekonomi . Baik sebagai pengusaha kecil ataupun sebagai buruh. Bila dilihat dari data kependudukan laki-laki dan perempuan dalam jumlah yang seimbang, maka bila dilihat jumlah kontribusi perempuan dalam bidang ekonomi tentu saja tidak dapat dilihat dengan sebelah mata.

Hal ini menunjukkan bahwa perempuan ikut ambil bagian dalam proses pembangunan di bidang ekonomi. Keterlibatan perempuan disektor publik kadang tidak disertai dengan dukungan di bidang hukum , kesehatan dan yang berkaitan dengan hak yang dimiliki perempuan.

Perempuan memiliki semangat yang besar dalam mengupayakan kebutuhan untuk keluarganya, meski dalam kenyataan masyarakat menganggap hanya kali–laki yang menjadi kepala keluarga, namun bila ada kekurangan dalam keluarga perempuan akan berusaha menutup kekurangan tersebut. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya perempuan memiliki semangat yang besar dalam berusaha untuk mendapatkan penghasilan bagi keluarganya. Hal tersebut secara tidak langsung akan ikut meningkatkan peredaran uang dalam suatu daerah. Dan pada gilirannya akan ikut meningkatkan pendapatan perkapita. Potensi potensi tersebut belum didukung dengan peningkatan upah yang seimbang bila dibanding dengan hasilnya. Potensi tersebut adalah : semangat, tanggung jawab, tekat, ketrampilan, pengetahuan, berani berkorban, dll.

Kisah Ibu Maimunah Kita dapat melihat kegigihan seorang ibu yang bernama Maimunah, peran ibu Maimunah akan semakin menambah deretan contoh-contoh lain dalam panggung kehidupan bahwa perempuan berperan dalam Pengembangan ekonomi keluarga, Maimunah adalah seorang perempuan yang menopang kehidupannya sendiri. Untuk itu mari kita semua lebih arif dalam memandang, memperlakukan perempuan dalam kancah kehidupan ini, bisa kita bayangkan sandainya perempuan mogok bekerja, apa yang terjadi? Berikut ini potret kegigihan Maimunah pedagang Tanaman di Pasar Sibreh, Kecamatan Sukamakmur, Aceh Besar.

Maimunah mulai usahanya dengan berbekal modal nol, hanya dengan modal bantuan dari temannya dia mulai menjual tanaman seperti pohon mangga, rambutan, jeruk dll. Maimunah selalu berjualan pada setiap hari rabu yaitu salah satu (Uroe Peukan) hari pasar. Ia mulai berdagang pukul delapan pagi hingga sore hari. Untuk modal awal ia joinan dengan temannya. “Terus terang, ketika itu saya tidak bercita-cita menjadi pedagang” ujarnya. Maimunah tidak sendirian dia bekerja di Bantu oleh salah seorang temannya. anggota keluarga ikut andil dalam usaha ini.

Pada mulanya keadaan memang terasa berat, pada waktu itu memperoleh berbagai cobaan menerpa Maimunah. Dia harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sedangkan suaminya sakit- sakitan. Dia tetap bertahan walaupun itu amat berat. Walaupun kebanyakan orang masih menganggap profesi pedagang itu adalah tugasnya laki-laki tapi Maimunah tetap tegar menghadapi ocehan orang-orang.

Ketekunan dan totalitas Maimunah dalam menjalankan usaha sebagai pedagang tanaman mampu mengangkat beban keluarganya dari keterpurukan ekonomi. Maimunah dan keluarganya memulai bisnis ini dari nol. Karena sejak tahun 2008 sudah ditinggal mati suaminya.

Kontribusi dalam perekonomian
Jumlah perempuan yang ikut menopang ekonomi baik dalam keluarga maupun di tingkat yang lebih luas yaitu di daerah tingkat kabupaten, propinsi maupun di tingkat nasional boleh dibilang tinggi. Bisa kita lihat di setiap keluarga lebih dari 50% perempuan ikut bekerja. Baik sebagai pekerja formal, pekerja nonformal seperti pengusaha kecil, pedagang, buruh atau bahkan hanya pekerja paruh waktu sambil mengelola keluarga. Maka dapat kita katakan perempuan memiliki kontribusi secara ekonomi baik bagi keluarga maupun negara :

  1. Perempuan memberi sumbangan / kontribusi secara ekonomi bagi keluarga manakala penghasilan suami tidak mencukupi atau bahkan bila suami tidak bekerja.
  2. Bagi negara kontribusi perempuan diberikan karena ikut serta meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan pada gilirannya juga ikut serta meningkatkan pendapatan perkapita serta meningkatkan daya beli masyarakat sehingga secara keseluruhan ikut serta meningkatkan perekonomian secara makro.
  3. Ikut serta dalam proses produksi hasil pertanian dalam upaya menciptakan katahanan pangan nasional. Rendahnya upah mereka adalah sumbangan kepada negara dan masyarakat luas untuk tetap dapat menjangkau harga pangan, sandang dan papan. (Yuni/dbs)

Share the Post:

Artikel Terkait